Home » Blog » Upah dari pembekaman

Upah dari pembekaman

  • by

Pembekaman merupakan Pengobatan dengan cara bekam. Profesi sebagai tukang bekam akhir-akhir ini menjadi trend di masyarakat. Oleh karenanya banyak orang yang mulai menekuni pengobatan bekam sebagai profesi dan pekerjaannya sehari-hari, darinya ia mendapatkan nafkah dan darinya dia bisa hidup.

Hanya saja, upah tukang bekam dinilai tidak terpuji. Upah tukang bekam disebut khabits, bukan karena statusnya yang haram, tapi karena harta ini dianggap tidak terpuji dan tidak bermartabat. Sehingga makruh untuk dicari.

Makna khabits dalam alqur’an ini tidak bermakna haram namun hina,
Seperti firman Allah,

وَلاَ تَيَمَّمُواْ الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنفِقُونَ

“Janganlah kalian secara sengaja memilih harta yang khabits yang kalian infakkan.” (QS. al-Baqarah: 267).

Apa yang dimaksud dengan khobits dalam ayat di atas? Khobits yang dimaksudkan adalah sesuatu yang jelek (buruk). Jadi tidak setiap kata khobits bermakna haram. Kadang khobits bermakna jelek (buruk). Atau kadang pula khobits adalah sesuatu yang tidak disukai.

Terdapat hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan bahwa ‘upah bekam itu khobits (jelek)’. Namun sebaliknya dalam hadits lain disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi upah pada tukang bekam.

Sebagaimana yang diriwayatkan dalam kitab hadits berikut ini,

Sunan Abu Dawud
Kitab : Jual beli

• Upah dari pembekaman

Hadits : 2967

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَعِيلَ أَخْبَرَنَا أَبَانُ عَنْ يَحْيَى عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ يَعْنِي ابْنَ قَارِظٍ عَنْ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَسْبُ الْحَجَّامِ خَبِيثٌ وَثَمَنُ الْكَلْبِ خَبِيثٌ وَمَهْرُ الْبَغِيِّ خَبِيثٌ

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il, telah mengabarkan kepada kami Aban dari Yahya dari Ibrahim bin Abdullah bin Qarizh, dari As Saib bin Yazid? dari Rafi’ bin Khadij, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Penghasilan tukang bekam adalah kotor, dan harga (uang penjualan) anjing adalah kotor, serta upah pelacur adalah kotor.”

Hadits : 2968

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ الْقَعْنَبِيُّ عَنْ مَالِكٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ ابْنِ مُحَيِّصَةَ عَنْ أَبِيهِ
أَنَّهُ اسْتَأْذَنَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي إِجَارَةِ الْحَجَّامِ فَنَهَاهُ عَنْهَا فَلَمْ يَزَلْ يَسْأَلُهُ وَيَسْتَأْذِنُهُ حَتَّى أَمَرَهُ أَنْ أَعْلِفْهُ نَاضِحَكَ وَرَقِيقَكَ

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah, dari Malik dari Ibnu Syihab dari Ibnu Muhayyishah dari ayahnya bahwa ia meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menyewakan tukang bekam, kemudian beliau melarangnya. Namun ia terus memohon dan minta izin hingga beliau memerintahkannya: “Berilah makan untamu yang digunakan untuk mengairi air, serta budakmu!”

Hadits : 2969

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا خَالِدٌ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ
قَالَ احْتَجَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَعْطَى الْحَجَّامَ أَجْرَهُ وَلَوْ عَلِمَهُ خَبِيثًا لَمْ يُعْطِهِ

Advertisements

Telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Yazid? bin Zurai’, telah menceritakan kepada kami Khalid, dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbekam dan memberikan upah kepada tukang bekam. Seandainya beliau meyakininya sebagai sesuatu yang buruk, niscaya beliau tidak memberinya.

Hadits : 2970

حَدَّثَنَا الْقَعْنَبِيُّ عَنْ مَالِكٍ عَنْ حُمَيْدٍ الطَّوِيلِ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّهُ قَالَ
حَجَمَ أَبُو طَيْبَةَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَرَ لَهُ بِصَاعٍ مِنْ تَمْرٍ وَأَمَرَ أَهْلَهُ أَنْ يُخَفِّفُوا عَنْهُ مِنْ خَرَاجِهِ

Telah menceritakan kepada kami Al Qa’nabi, dari Malik dari Humaid Ath Thawil, dari Anas bin Malik, bahwa ia berkata; Abu Thaibah membekam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau memerintahkan agar ia diberi satu sha’ kurma dan memerintahkan para majikannya agar meringankan upeti darinya.

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin dalam Liqo’at Al Bab Al Maftuh, 213/14 pernah ditanya:

Bagaimana mengkompromikan hadits di atas?

Beliau rahimahullah menjawab:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah menyebut bawang merah, bawang bakung dan semacamnya dengan sebutan khobits (jelek).

Apakah benda-benda tersebut halal atau haram?

Jawabannya, bawang dan semacamnya tadi adalah halal. Upah bekam semisal dengan ini. Khobits yang dimaksudkan adalah jelek (buruk). Jadi yang dimaksudkan adalah tidak sepantasnya tukang bekam itu mengambil upah. Kalau ingin mengambil upah, seharusnya dia mengambil sekadarnya saja tanpa ambil keuntungan. Jadi, upah bekam ini bukanlah haram.

Dari riwayat hadits di atas, maka bisa disimpulkan bahwa upah bekam hukumnya halal, tetapi kurang ideal dan kurang pantas untuk dijadikan sebagai profesi, dimana dia menggantungkan hidupnya darinya. Apalagi kalau memasang harga, karena sebenarnya bekam lebih bersifat sosial, sebagai kegiatan menolong sesama yang membutuhkan pengobatan dengan bekam.  

Berkata Ibnu al Jauzi : “Upah juru bekam dikatakan makruh, karena memang seharusnya seorang muslim itu membantu saudaranya sesama muslim dengan pengobatan bekam ketika dibutuhkan, maka tidak selayaknya dia mengambil upah dari perbuatannya tersebut.“ 

jika upah bekam diharamkan atau dimakruhkan, bagaimana tukang bekam membayar sewa ruko tempat praktek bekam, begitu juga biaya untuk menggaji pegawai, membeli alat-alat bekam dan sejenisnya ?

Jawabannya, Bahwa juru bekam mempunyai beberapa solusi untuk tetap bisa eksis di dalam pekerjaannya tanpa terjerat di dalam perbuatan haram atau makruh atau sesuatu yang tidak pantas, diantara solusi atau jalan keluar tersebut adalah sebagai berikut :

• sebaiknya dia tidak usah memasang harga atau menentukan tarif dari pekerjaannya. Cukup baginya menulis di tempat prakteknya bahwa bekam ini tidak ditentukan biayanya, tetapi dianjurkan infaq semampunya untuk keperluan operasional bekam.

• untuk menutupi biaya operasional, dia bisa sambil menjual obat-obat pendukung untuk bekam, atau produk-produk herbal lainnya, tanpa harus memaksa pasien untuk membeli obat-obat atau produk-produk tersebut.

Advertisements

Intinya adalah bahwa seorang juru bekam dalam melakukan pengobatan hendaknya diniatkan karena Allah dan menolong sesama, jangan sampai orentasinya hanya keuntungan materi belaka. Barang siapa dalam beramal ikhlas karena Allah, maka Allah akan membantunya dan memudahkan urusannya, serta memberikan berkah dalam rizki dan hidupnya.
Wallahu A’lam.

Advertisements

Leave a Reply